1 | Akui adanya konflik

Suami dan istri adalah dua individu yang berbeda, tapi perlu menyamakan persepsi bahwa mereka punya tujuan yang sama. Jangan abaikan konflik atau gesekan sekecil apa pun sebab berpotensi jadi ledakan kalau tak ditangani.

2 | Bukan alasan terpecah 

Konflik itu lumrah jadi jangan jadikan alasan untuk terpecah apalagi berpisah. Pasutri harus sadar bahwa konflik hadir untuk mendewasakan diri, sebagai bagian dari proses membangun keluarga yang lebih kuat–bukan sebaliknya.

3 | Kompromi

Lewat diskusi terbuka, sampaikan masalah sesungguhnya tanpa ditutup-tutupi. Cari titik temu yang bisa diterima oleh kedua pihak dengan cara berkompromi

4 | Fokus pada solusi

Apa pun masalah yang terjadi, pasutri harus sepakat untuk mencari solusi terbaik, bukan berkutat pada siapa yang salah. Pada banyak kasus, penyebabnya bisa sepele tapi bisa memburuk akibat saling menyalahkan.

5 | Introspeksi

Hal terpenting saat konflik terjadi adalah perlunya pasutri melakukan introspeksi agar masing-masing paham apa yang perlu diperbaiki sesuai harapan. Ketimbang main blaming action, lebih baik tegas bahwa keduanya ‘responsible’ sehingga ada tekad untuk berbenah. 

6 | Berjuang bersama

Apa pun penyebab masalah, tugas pasutri adalah berjuang bersama-sama. Berjuang berarti sadar penuh bahwa tidak ada yang lebih mulia atau lebih nista untuk memperbaiki hubungan yang ada. Hentikan victim mentality seolah-olah ada pihak yang dizalimi dan butuh dikasihani.  

7 | Target dan evaluasi

Begitu dicapai solusi, kedua pihak harus sepakat menjalankannya. Bila perlu tentukan waktu tertentu untuk melakukan evaluasi sehingga opsi-opsi solusi lainnya bisa dipertimbangkan jika solusi utama tidak efektif, atau bisa saling menyempurnakan.

 8 | Maaf

Maaf adalah kata ajaib untuk mengobati luka dan menyelesaikan masalah. Rasa sakit mungkin tak sepenuhnya hilang, tapi pemberian maaf bisa mempercepat kesembuhan. Pasutri saling merelakan untuk membuka lembaran baru yang lebih menguatkan. 

 9 | Mediasi

Jika diskusi buntu, atau solusi ternyata tidak ampuh, tak perlu malu meminta bantuan dari pakar lewat konseling. Peran mediator sangat penting untuk menimbang masalah dengan adil dan jernih tanpa terjebak untuk membela salah satunya sebab bertujuan utama mendapatkan solusi.